SEPATU BOLA



 

Sejak kecil aku suka sekali bermain sepakbola, setiap sore aku menghabiskan waktu di lapangan bermain sepakbola bersama teman-teman. Namun sayangnya, olahraga kesukaan itu mendapatkan beberapa kendala, kendala yang paling besar adalah restu bapak. Bapak paling tidak suka kalau aku bermain bola padahal bakatku di dunia sepakbola cukup gemilang yang seharusnya di dukung. 

Kendala kedua ialah sepatu, aku terlahir dari keluarga yang hidup dibawah garis kemiskinan, membuat aku harus bermain tanpa sepatu bola seperti layaknya para pemain sepakbola profesional. Hingga pada suatu ketika,  satu persatu teman-teman se-club mulai memiliki sepatu, hanya diriku saja yang belum memiliki sepatu, padahal sebulan lagi kami akan mengikuti turnamen sepakbola tingkat kota. 

Mamakku seorang pedagang makanan kecil keliling pasar, kalau lagi libur atau ada waktu luang aku sering ikut mamak berdagang  di pasar. Di kota kami belum banyak toko sepatu. Hanya ada satu toko, dan di toko itu ada sepatu bola yang terpajang dalam etalase. 

Aku dan mamak sering berdagang melewati toko sepatu itu, bahkan sesekali pemilik toko itu membeli kue dagangan mamak, disaat itulah kesempatanku untuk melihat-lihat sepatu bola dalam etalase, ada sebuah sepatu bola yang bagus sekali aku pengen sekali memilikinya, tapi saat kulihat harganya mahal, mamak tak mungkin membelikan aku sepatu itu. Walau sebenarnya mamak merasa sangat ibah ketika aku tak henti-hentinya memandangai sepatu bola dalam etalase toko. 

Pada malam setelah melihat sepatu bola dalam etalase itu, aku mulai berpikir bagaimana caranya agar aku bisa membeli sepatu berwarna putih dengan lis hitam itu. Seketika aku ingat pada pak Imron, teman mamak di pasar, Pak Imron seorang penjual telur puyuh rebus, kebetulan dua hari lagi liburan sekolah selama dua pekan. 

Maka pagi harinya, kuceritakan tentang niatku pada mamak, mamak tak masalah, mamak juga akan membantu menyampaikan niatku pada Pak Imron. Pak Imron menyetujui dan mengizinkan aku untuk menjualkan telur puyuh rebusnya.

Dihari pertama liburan aku mulai berdagang telur puyuh rebus  milik lelaki berusia 50 tahun itu, aku mendapat komisi Rp 200/ bungkus telur puyuh rebus yang berhasil aku jual. Satu bungkus terdiri dari 5 butir telur puyuh, setiap hari aku berhasil menjualkan 20-30 bungkus telur puyuh dengan keuntungan bersih untukku Rp 4000 – Rp 6000/ hari, pada zaman dulu uang segitu sudah gede banget bagiku.

Selama berjualan telur puyuh rebus, setiap hari aku lewat depan toko sepatu dan kulihat sepatu bola idamanku itu masih terpajang dalam etalase, melihatnya aku kembali semangat berjualan, mudah-mudahan uangku cukup pada waktunya nanti. Setiap sore setelah berjualan di pasar, aku masih menyempatkan diri bermain bola bersama teman-teman di lapangan sepak bola kampung, walau harus sembunyi-sembunyi dari sepasang mata bapak.

Tak terasa masa liburan sekolah telah usai, aku menghitung-hitung uang hasil jualan telur puyuh rebus yang selama ini kusimpan dibawah lipatan baju dalam lemari. Dari hitunganku, uang itu cukup untuk membeli sepatu bola di toko sepatu Idola. Aku tak bisa menahan kegembiran dalam diriku, tidak lama lagi aku bakal punya sepatu bola idaman.

Tapi aku ingat, aku belum membeli perlengkapan sekolah, sementara mamak tak bisa membelikan perlengkapan sekolah untukku, karena uangnya sudah habis untuk keperluan adik-adikku yang kebetulan baru mau masuk sekolah.  Maka kurelakan uangku tabungan itu dialihkan untuk membeli perlengkapan sekolah, sebab bagaimana pun juga sekolah lebih penting dari segalanya saat itu. Dan saat itu pula, aku harus merelakan tidak akan bisa mengikuti turnamen sepak bola di kota karena persyaratan mengikuti turnamen sepakbola harus memakai sepatu. 

Pada tengah hari, saat mamak baru saja pulang berdagang, mamak memberikan sesuatu yang terbungkus dalam kanton kresek hitam. Mamak tersenyum kepadaku dan memintaku untuk membukanya. Aku membuka ikatan kantong kresek hitam itu dan kulihat ada sepasang sepatu bola berwarna hitam dengan lis merah.  Hatiku sangat senang sekali, tak tahu harus mengucapkan apa pada mamak selain terima kasih. 

Kata mamak, ia beli sepatu itu dari tukang sol sepatu, walau itu bukan sepatu baru dari toko tapi aku sangat senang sekali, akhirnya aku punya sepatu bola dan bisa ikut turnamen sepakbola bareng teman-teman. Pesan mamak, rahasiakan sepatu itu dari bapak, agar bapak tidak marah. Aku memahami maksud mamak. Dan sepatu itu aku titipkan di rumah seorang teman yang mengerti keadaanku.

Begitulah sepenggal kisahku yang bisa aku ceritakan pada sobat inspirasi semuanya.  

Semoga dengan hadirnya Buka Lapak salah satu e-commerce terbaik di Indonesia bisa memudahkan jutaan anak-anak Indonesia untuk meraih impiannya menjadi pemain sepakbola profesional, hal itu pastinya didukung oleh hadirnya perlengkapan olahraga khususnya sepakbola dari berbagaimacam brand dengan kualitas terbaik di Buka Lapak. Terima Kasih Buka Lapak.
LihatTutupKomentar
Cancel